Selasa, 24 Februari 2015

Pindah Lapak!

Mulai saat ini, segala bentuk tulisan dan semacamnya akan dipublikasikan di indrikatiranda.com, seringlah mampir saat punya waktu luang. Terima kasih

Senin, 20 Oktober 2014

INGAT TERUS MEREKA YANG TERUS INGAT


Saat itu saya sedang mondar-mandir dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya untuk berpenampilan ala wanita seutuhnya dalam waktu 15 menit sebelum pukul 08.00. Ya, seperti biasa saya terlambat. Akhir-akhir ini bangun pagi merupakan kelemahan saya setiap ada kuliah ataupun asistensi pagi. Saat saya sedang mondar-mandir mempersiapkan peralatan tempur (re: alat tulis dkk) dengan khawatir saya mengecek handphone untuk melihat tanda-tanda telah dimulainya kelas. (Nah lho ?) Bukannya saya mempunyai indera keenam, ketujuh, kedelapan, dst. Isyarat itu datangnya dari teman saya, mereka yang selalu memberi tanda lewat message ataupun telepon. Dan beneran ada  2 missed call yang tertera di layar handphone-ku. Kaget ? Sudah pasti. Dengan penasaran aku mengecek si pemilik missed call ini, apa masih temanku atau malah dosennya langsung yang menelpon (bisa aja kan? :3). Ternyata bukan keduanya. Penelpon yang ini lebih tinggi pangkatnya dari 2 orang yang kusebutkan tadi. Dia Mamaku. Mama super-sibuk, yang kalau bukan anaknya dulu yang menghubungi, dia mungkin gak inget kalo udah punya anak. Lalu kuputuskan untuk menghubunginya kembali segera sesudah aku menjadi manusia yang layak untuk pandang (siap untuk ke kampus).
Dalam perjalanan, dengan hati was-was, saya pun men-dial nomor Mama. Sambil menunggu telpon saya diangkat, saya berusaha keras mengingat kembali kelakuan saya belakangan ini. Belum sempat saya menemukan perbuatan saya yang salah, telah terdengar suara Mama dari handphone. Dan kira-kira seperti ini percakapan kamu yang dihiasi dengan logat Papua dan Makassar.
“Halo, Nak. Selamat pagi”, kata Mama menjawab telepon.
“Halo, Mama. Selamat pagi”, balasku menyapanya.
“Iya, ini lagi apa?”
“Lagi di jalan ji ka’ iya, Ma. Ini mau ke kampus, ada kuliah pagiku. Tadi telepon kenapa?”, tanyaku hati-hati.
“Oh iya, itu kemarin Mama ketemu sama Ibu gurumu dulu waktu SD. Dia gurumu waktu kelas 2 di Xaverius dulu. Dia ada cari ko itu, Nak. Katanya Ibu guru sudah rindu sekali dengan Indri. Ibu guru juga tadi ada minta nomor HP-nya Indri. Nanti Mama kirim nomornya Ibu Guru baru ko coba hubungi ya, Nak. Sekedar tanya kabar atau cerita. Ibu guru juga tadi ada titip salam, jadi jangan lupa bilang kalau tadi sudah terima salamnya”, jelas Mama.
Mungkin cukup sampai di situ ya ceman ceman, untuk menyimak percakapan selengkapnya silahkan klik di sini hihihi.
 Lalu saat mematikan telepon dan melanjutkan perjalanan, saya kembali mengingat-ingat lagi. Bukan mengingat kelakuan akhir-akhir ini seperti sebelumnya, tapi mengingat kelakuan semasih SD. Namun mengingat yang ini ternyata lebih susah ceman-ceman, daya ingat saya yang tak sampai dan ini berarti tak ada sesuatu yang spesial yang pernah saya lakukan semasa itu. Tidak pernah menang lomba apapun, tidak berpenampilan lebih kece daripada anak lainnya juga, tidak sedang nakal juga, tidak sedang gila juga, intinya tidak punya memori khusus yang membuat saya dapat mengingatnya sampai sekarang.
Namun di luar dari semua tanya tentang apa yang membuat saya bisa diingat selama 11 tahun oleh Guru sendiri dari sekian banyak murid, saya sadar saat itu ada perasaan ‘hangat’ di dalam hati saya. Iya, sesederhana itu kita dapat membuat orang merasa benar-benar dihargai. Iya, saat itu saya merasa bernilai. Hanya cukup dengan diingat. Cukup mengingat semua orang yang pernah ada dalam hidupmu. Susah mengingat? Kenali lagi orang di sekitarmu dan dekati mereka, apalagi kepada orang-orang yang (mungkin) sering berpikir bahwa ada dan tiadanya mereka terasa sama saja.
Sesederhana itu kamu bisa membuat orang lain merasa bernilai dan dihargai.
Sesederhana itu pula, tanpa kamu ketahui, mereka dengan tulus meng-Amin-kan inginmu dalam setiap doa dan ‘semoga’ yang kau panjatkan

Jumat, 19 September 2014

Hargailah Mereka yang Untukmu Rela Ribet

Mungkin bagi sebagian orang, terlebih lagi cowok, penampilan bukanlah hal yang terlalu penting untuk dijadikan beban pikiran. Tapi hal ini benar-benar berbanding terbalik jika dihadapakan pada sebagian besar kaum hawa. Iya, ini beneran jadi complicated, saya pernah mengalaminya.
Jadi semenjak pindah ke kota orang sendirian dan tinggal bersama makhluk sejenis, saya benar-benar tahu bagaimana kehidupan wanita yang sesungguhnya. Sebelumnya saya masihlah seorang anak perempuan yang senang berkomentar negatif  tentang penampilan teman sebaya saya. Memanggil mereka dengan sebutan “tante” saat gaya dan make up mereka –menurut saya– berlebihan, risih dengan pertanyaan mereka tentang baik tidaknya penampilan mereka, dan hal-hal (yang waktu itu menurut saya) tidak penting.
Tapi sekarang, seperti lirik lagu ‘lain dulu lain sekarang’, saya sendiri mulai memperhatikan penampilan luar dan hal ribet lainnya. Mulai ikut bertanya “ke sana naik apa ?”, “tempatnya ber-AC atau tidak ?”, dan pertanyaan lebay lainnya hanya agar dapat memilih baju yang tepat. Mulai teratur mengunjungi aesthetic center, mulai berpikir untuk diet, mulai mengoleksi alat dan bahan untuk perawatan tubuh, sampai ke hal-hal kecil seperti  mulai ganjen bawa sisir ke kampus dan seneng selfie walau sebelumnya ribet ngatur rambut dan serasa pengen ganti muka saat muka kucel kayak gembel.
Di sini saya bukannya ingin menceritakan bagaimana hidup sembrono saya berubah menjadi hidup seorang wanita yang utuh (hahaha iya, ini lebay). But gaes, sama seperti seorang jomblo atau single yang cepat atau lambat pasti rindu untuk mempunyai pasangan, orang di sekitar kita pun punya waktunya masing-masing untuk berubah menjadi lebih dewasa. Mulai memakai make-up dan perawatan pun tidak sepenuhnya menunjukkan bahwa mereka mulai dewasa, tapi itu salah satu bentuk rasa peduli mereka pada diri sendiri sekaligus sebagai sarana menyalurkan hobi (bagi sebagian cewek).
Saya punya teman cowok yang sering ngeluh tentang kelakuan ceweknya yang menurut dia terlalu rempong, sama seperti pemikiran saya dulu. Ceweknya lama dandan-lah, ceweknya picky dalam hal tempat makan, ceweknya sering ngelarang dia buat ngerokok hanya karena baru keramas, ceweknya gak suka naik motor karena gak mau rambutnya berantakan, dan banyak keluahan lainnya. Intinya dia ngomong kalo ceweknya itu musingin (ya iyalah, kalo gak musingin gak bakalan ada tuh lagunya Ada Band yang judulnya Karena Wanita Ingin Dimengerti). Sampai akhirnya, di satu event sekolah, saya ketemu sama ceweknya dan mulai saya ajak ngobrol. Orangnya cantik, putih, punya body yang bagus, rambutnya dimodel ala ala anak gaul tahun 2013, mukanya penuh dengan sentuhan make-up. Kalo kalian nanyain saya ngobrolin apa aja dengan dia, itu gak penting. Yang pasti, saat kami udah kehabisan bahan obrolan, saya sempat memujinya dengan “Kamu cantik banget ternyata, lebih cantik dari yang diomongin si Ian (teman saya)”. Dia menjawab pujian saya dengan mengatakan bahwa selama ini si Ian sendiri pun bahkan gak pernah muji dia seperti yang saya lakukan tadi. Iya, ini bagian yang terpenting, bukan karena dia merasa telah mendapatkan saya sebagai belahan jiwanya yang baru :3, tapi kuncinya ada dipujian tadi. Bukan kecantikannya, tapi effort-nya untuk tampil sebaik mungkin di depanmu. Usaha sekecil apapun perlu mendapat penghargaan, bukan ? Dan dia melakukan usahanya yang terbaik.

Saya sendiripun, setelah setahun lebih hidup di tempat yang penuh dengan persoalan cewek hanya bisa ngerapiin rambut sama dapat sedikit pengetahuan tentang produk yang namanya BB Cream. Walau kemarin nyoba untuk pasang eye liner sendiri, tapi hasilnya seperti Ost-nya Ninja Hatori teman teman :( (jeng jeng jeng.. mendaki gunung, lewati lembah, alias gak rapi banget). Itu susah men, butuh fokus yang tinggi bahkan sampai harus nahan napas. Karena itu, saya salut untuk para wanita di luar sana yang punya skill make make-up dengan sempurna. Saya salut dengan wanita karier yang jam bangunnya kadang lebih pagi dari anak sekolahan, hanya untuk dandan. Saya salut dengan adek-adek yang saat ke sekolah make make-up-nya lengkap beserta tata rambut. Saya gak bisa bayangin kalian harus bangun jam berapa, entah sarapan atau gak, entah tidurnya cukup atau gak. Ini bukan sindiran halus atau sebagainya, mereka pasti punya alasan sendiri, apa yang ingin mereka capai dengan usaha sekeras itu. Yang pasti hargailah mereka, siapapun dia, yang hanya untuk menemuimu rela meribetkan dirinya sendiri. On time setiap punya janji, jangan ngebatalin janji seenaknya, dan yang paling penting dan paling gak susah, katakan saja bahwa hari ini dia terlihat lebih baik, setidaknya saat dia bertanya tentang penampilannya.