Saat itu saya
sedang mondar-mandir dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya untuk
berpenampilan ala wanita seutuhnya dalam waktu 15 menit sebelum pukul 08.00.
Ya, seperti biasa saya terlambat. Akhir-akhir ini bangun pagi merupakan
kelemahan saya setiap ada kuliah ataupun asistensi pagi. Saat saya sedang
mondar-mandir mempersiapkan peralatan tempur (re: alat tulis dkk) dengan
khawatir saya mengecek handphone untuk melihat tanda-tanda telah dimulainya
kelas. (Nah lho ?) Bukannya saya
mempunyai indera keenam, ketujuh, kedelapan, dst. Isyarat itu datangnya dari
teman saya, mereka yang selalu memberi tanda lewat message ataupun telepon. Dan beneran
ada 2 missed call yang tertera di layar handphone-ku. Kaget ? Sudah pasti. Dengan penasaran aku mengecek si
pemilik missed call ini, apa masih
temanku atau malah dosennya langsung yang menelpon (bisa aja kan? :3). Ternyata bukan keduanya. Penelpon yang ini lebih
tinggi pangkatnya dari 2 orang yang kusebutkan tadi. Dia Mamaku. Mama
super-sibuk, yang kalau bukan anaknya dulu yang menghubungi, dia mungkin gak inget
kalo udah punya anak. Lalu kuputuskan
untuk menghubunginya kembali segera sesudah aku menjadi manusia yang layak
untuk pandang (siap untuk ke kampus).
Dalam perjalanan,
dengan hati was-was, saya pun men-dial nomor
Mama. Sambil menunggu telpon saya diangkat, saya berusaha keras mengingat
kembali kelakuan saya belakangan ini. Belum sempat saya menemukan perbuatan
saya yang salah, telah terdengar suara Mama dari handphone. Dan kira-kira seperti ini percakapan kamu yang dihiasi
dengan logat Papua dan Makassar.
“Halo, Nak. Selamat pagi”, kata Mama
menjawab telepon.
“Halo, Mama. Selamat pagi”, balasku
menyapanya.
“Iya, ini lagi apa?”
“Lagi di jalan ji ka’ iya, Ma. Ini mau ke
kampus, ada kuliah pagiku. Tadi telepon kenapa?”, tanyaku hati-hati.
“Oh iya, itu kemarin Mama ketemu
sama Ibu gurumu dulu waktu SD. Dia gurumu waktu kelas 2 di Xaverius dulu. Dia ada
cari ko itu, Nak. Katanya Ibu guru sudah rindu sekali dengan Indri. Ibu guru
juga tadi ada minta nomor HP-nya Indri. Nanti Mama kirim nomornya Ibu Guru baru
ko coba hubungi ya, Nak. Sekedar tanya kabar atau cerita. Ibu guru juga tadi
ada titip salam, jadi jangan lupa bilang kalau tadi sudah terima salamnya”,
jelas Mama.
Mungkin cukup
sampai di situ ya ceman ceman, untuk menyimak percakapan selengkapnya silahkan
klik di sini hihihi.
Namun di luar dari
semua tanya tentang apa yang membuat saya bisa diingat selama 11 tahun oleh
Guru sendiri dari sekian banyak murid, saya sadar saat itu ada perasaan ‘hangat’ di dalam hati saya. Iya,
sesederhana itu kita dapat membuat orang merasa benar-benar dihargai. Iya, saat itu saya merasa bernilai. Hanya
cukup dengan diingat. Cukup mengingat semua orang yang pernah ada dalam
hidupmu. Susah mengingat? Kenali lagi orang di sekitarmu dan dekati mereka,
apalagi kepada orang-orang yang (mungkin) sering berpikir bahwa ada dan tiadanya
mereka terasa sama saja.
Sesederhana itu
kamu bisa membuat orang lain merasa bernilai dan dihargai.
Sesederhana itu
pula, tanpa kamu ketahui, mereka dengan tulus meng-Amin-kan inginmu dalam
setiap doa dan ‘semoga’ yang kau panjatkan
"Mungkin cukup sampai di situ ya ceman ceman, untuk menyimak percakapan selengkapnya silahkan klik di sini hihihi."
BalasHapusTautan buat percakapan selengkapnya gak bisa dibuka.
Itu tergantung siapa yang ngeklik :3
HapusIh.
Hapus