Senin, 20 Oktober 2014

INGAT TERUS MEREKA YANG TERUS INGAT


Saat itu saya sedang mondar-mandir dengan kecepatan yang melebihi kecepatan cahaya untuk berpenampilan ala wanita seutuhnya dalam waktu 15 menit sebelum pukul 08.00. Ya, seperti biasa saya terlambat. Akhir-akhir ini bangun pagi merupakan kelemahan saya setiap ada kuliah ataupun asistensi pagi. Saat saya sedang mondar-mandir mempersiapkan peralatan tempur (re: alat tulis dkk) dengan khawatir saya mengecek handphone untuk melihat tanda-tanda telah dimulainya kelas. (Nah lho ?) Bukannya saya mempunyai indera keenam, ketujuh, kedelapan, dst. Isyarat itu datangnya dari teman saya, mereka yang selalu memberi tanda lewat message ataupun telepon. Dan beneran ada  2 missed call yang tertera di layar handphone-ku. Kaget ? Sudah pasti. Dengan penasaran aku mengecek si pemilik missed call ini, apa masih temanku atau malah dosennya langsung yang menelpon (bisa aja kan? :3). Ternyata bukan keduanya. Penelpon yang ini lebih tinggi pangkatnya dari 2 orang yang kusebutkan tadi. Dia Mamaku. Mama super-sibuk, yang kalau bukan anaknya dulu yang menghubungi, dia mungkin gak inget kalo udah punya anak. Lalu kuputuskan untuk menghubunginya kembali segera sesudah aku menjadi manusia yang layak untuk pandang (siap untuk ke kampus).
Dalam perjalanan, dengan hati was-was, saya pun men-dial nomor Mama. Sambil menunggu telpon saya diangkat, saya berusaha keras mengingat kembali kelakuan saya belakangan ini. Belum sempat saya menemukan perbuatan saya yang salah, telah terdengar suara Mama dari handphone. Dan kira-kira seperti ini percakapan kamu yang dihiasi dengan logat Papua dan Makassar.
“Halo, Nak. Selamat pagi”, kata Mama menjawab telepon.
“Halo, Mama. Selamat pagi”, balasku menyapanya.
“Iya, ini lagi apa?”
“Lagi di jalan ji ka’ iya, Ma. Ini mau ke kampus, ada kuliah pagiku. Tadi telepon kenapa?”, tanyaku hati-hati.
“Oh iya, itu kemarin Mama ketemu sama Ibu gurumu dulu waktu SD. Dia gurumu waktu kelas 2 di Xaverius dulu. Dia ada cari ko itu, Nak. Katanya Ibu guru sudah rindu sekali dengan Indri. Ibu guru juga tadi ada minta nomor HP-nya Indri. Nanti Mama kirim nomornya Ibu Guru baru ko coba hubungi ya, Nak. Sekedar tanya kabar atau cerita. Ibu guru juga tadi ada titip salam, jadi jangan lupa bilang kalau tadi sudah terima salamnya”, jelas Mama.
Mungkin cukup sampai di situ ya ceman ceman, untuk menyimak percakapan selengkapnya silahkan klik di sini hihihi.
 Lalu saat mematikan telepon dan melanjutkan perjalanan, saya kembali mengingat-ingat lagi. Bukan mengingat kelakuan akhir-akhir ini seperti sebelumnya, tapi mengingat kelakuan semasih SD. Namun mengingat yang ini ternyata lebih susah ceman-ceman, daya ingat saya yang tak sampai dan ini berarti tak ada sesuatu yang spesial yang pernah saya lakukan semasa itu. Tidak pernah menang lomba apapun, tidak berpenampilan lebih kece daripada anak lainnya juga, tidak sedang nakal juga, tidak sedang gila juga, intinya tidak punya memori khusus yang membuat saya dapat mengingatnya sampai sekarang.
Namun di luar dari semua tanya tentang apa yang membuat saya bisa diingat selama 11 tahun oleh Guru sendiri dari sekian banyak murid, saya sadar saat itu ada perasaan ‘hangat’ di dalam hati saya. Iya, sesederhana itu kita dapat membuat orang merasa benar-benar dihargai. Iya, saat itu saya merasa bernilai. Hanya cukup dengan diingat. Cukup mengingat semua orang yang pernah ada dalam hidupmu. Susah mengingat? Kenali lagi orang di sekitarmu dan dekati mereka, apalagi kepada orang-orang yang (mungkin) sering berpikir bahwa ada dan tiadanya mereka terasa sama saja.
Sesederhana itu kamu bisa membuat orang lain merasa bernilai dan dihargai.
Sesederhana itu pula, tanpa kamu ketahui, mereka dengan tulus meng-Amin-kan inginmu dalam setiap doa dan ‘semoga’ yang kau panjatkan

3 komentar:

  1. "Mungkin cukup sampai di situ ya ceman ceman, untuk menyimak percakapan selengkapnya silahkan klik di sini hihihi."

    Tautan buat percakapan selengkapnya gak bisa dibuka.

    BalasHapus