Selasa, 29 April 2014

Matur Nuwun, Mas


Ini surat pertamaku untuk laki-lain yang lain. Menulis tentang masa lalu akhirnya membuatku merasa jenuh dan malu pada keadaan sendiri. Oh iya, bagaimana jika kusebut saja kamu dengan panggilan “Mas” ? Seperti itu bukan panggilan untuk lelaki yang dihormati dalam bahasa Jawa ?
Besok adalah “Wali Studi Days” buat kita para (calon) akuntan, Mas. Namun pertama-tama, melalui surat ini aku ingin mengucapkan terima kasih karena telah membuatku begitu rajinnya datang ke kampus walau hanya sekedar untuk mengecek jadwal ujian atau pun make up class,melakukan hal-hal yang biasanya kuacuhkan. Mengingat aku adalah cewek high technology,dan melakukan interaksi secukupnya hanya melalui message.
Kedua, aku masih tetap ingin berterima kasih karena melalui kamu Tuhan seakan terus mendukung dan membuatku untuk terus melangkah maju walaupun terkadang beberapa masalah akhirnya berhasil membuat semangatku patah. Aku jadi ingat, dulu saat ada masalah yang untuk-menceritakannya-pada-orang-terdekat-pun-aku-tak-bisa, saat itu aku berpikir untuk berhenti sejenak mengambil jeda untuk menenangkan diri, bahkan sampai berpikir untuk berhenti berjuang, saat itu aku sedang mondar-mandir (seperti ABG labil ) membaca pengumuman di lobby fakultas lalu kamu datang. Kamu tidak hanya lewat, namun mendekat. Ah, aku lupa kapan terakhir kali kita bertemu sebelum hari itu datang, sepertinya proposal sedikit merenggut waktumu. Bagaimana mungkin aku tak melihatmu ? Bahkan saat diserang masalah dan dirundung duka pun, pesonamu masih begitu jelas kulihat. Yes, you are so adorable to the max. Hanya sebentar dan kaupun pergi. Lalu aku tersenyum. Mungkin ini cara Tuhan untuk menghentikan pemikiran jelekku tadi. Cara yang memang sederhana, namun aku bukanlah orang bebal. Mimpiku lebih besar daripada masalah itu. Aku telah memulai semuanya dengan baik, bukankah lebih baik jika semuanya kuselesaikan denga baik pula ? Aku telah merancang mimpiku dengan sempurna, jika Tuhan berkenan dengan semuanya itu, tidak seharusnya masalah yang tidak lebih besar dari Bapa-ku ini menghalangiku, bukan ? Terkadang, dalam mengingatkan Tuhan punya cara-cara lucu ya ? Hihihi
Anggap saja ini surat cinta, Mas. Aku ingin terus memujimu melalui surat ini, sayang sekali, kreatifitas yang muncul karena rasa kagum ternyata tidak seindah kreatifitas yang muncul saat jatuh cinta ataupun patah hati. Namun pada intinya, terima kasih karena telah menyelamatkan 2 semester pertamaku di tempat ini.



Salatiga, 29 April 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar