Ini surat pertamaku untuk laki-lain
yang lain. Menulis tentang masa lalu akhirnya membuatku merasa jenuh dan malu
pada keadaan sendiri. Oh iya, bagaimana jika kusebut saja kamu dengan panggilan
“Mas” ? Seperti itu bukan panggilan untuk lelaki yang dihormati dalam bahasa
Jawa ?
Besok adalah “Wali Studi Days” buat
kita para (calon) akuntan, Mas. Namun pertama-tama, melalui surat ini aku ingin
mengucapkan terima kasih karena telah membuatku begitu rajinnya datang ke
kampus walau hanya sekedar untuk mengecek jadwal ujian atau pun make up class,melakukan hal-hal yang
biasanya kuacuhkan. Mengingat aku adalah cewek high technology,dan melakukan interaksi secukupnya hanya melalui message.
Kedua, aku masih tetap ingin
berterima kasih karena melalui kamu Tuhan seakan terus mendukung dan membuatku
untuk terus melangkah maju walaupun terkadang beberapa masalah akhirnya
berhasil membuat semangatku patah. Aku jadi ingat, dulu saat ada masalah yang
untuk-menceritakannya-pada-orang-terdekat-pun-aku-tak-bisa, saat itu aku berpikir
untuk berhenti sejenak mengambil jeda untuk menenangkan diri, bahkan sampai
berpikir untuk berhenti berjuang, saat itu aku sedang mondar-mandir (seperti
ABG labil ) membaca pengumuman di lobby
fakultas lalu kamu datang. Kamu tidak hanya lewat, namun mendekat. Ah, aku lupa
kapan terakhir kali kita bertemu sebelum hari itu datang, sepertinya proposal
sedikit merenggut waktumu. Bagaimana mungkin aku tak melihatmu ? Bahkan saat
diserang masalah dan dirundung duka pun, pesonamu masih begitu jelas kulihat. Yes, you are so adorable to the max. Hanya
sebentar dan kaupun pergi. Lalu aku tersenyum. Mungkin ini cara Tuhan untuk
menghentikan pemikiran jelekku tadi. Cara yang memang sederhana, namun aku bukanlah
orang bebal. Mimpiku lebih besar daripada masalah itu. Aku telah memulai
semuanya dengan baik, bukankah lebih baik jika semuanya kuselesaikan denga baik
pula ? Aku telah merancang mimpiku dengan sempurna, jika Tuhan berkenan dengan
semuanya itu, tidak seharusnya masalah yang tidak lebih besar dari Bapa-ku ini
menghalangiku, bukan ? Terkadang, dalam mengingatkan Tuhan punya cara-cara lucu
ya ? Hihihi
Anggap saja ini surat cinta, Mas.
Aku ingin terus memujimu melalui surat ini, sayang sekali, kreatifitas yang
muncul karena rasa kagum ternyata tidak seindah kreatifitas yang muncul saat
jatuh cinta ataupun patah hati. Namun pada intinya, terima kasih karena telah
menyelamatkan 2 semester pertamaku di tempat ini.
Salatiga,
29 April 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar